Era persaingan bisnis yang serba cepat dan modern, kecepatan dan ketepatan menjadi kunci utama yang dapat menentukan keberhasilan sebuah produk. Tak bisa dipungkiri, pembuatan sebuah prototipe secara efektif menjadi bagian penting dari siklus suatu produk. Melalui pengujian yang dilakukan secara kesinambungan dan iterasi untuk mencapai kesempurnaan, para engineer dapat sampai pada tahap desain final yang bekerja dengan fitur dan kinerja yang ingin dicapai.
Proses iterasi sebelum adanya 3D printing menjadi membutuhkan waktu dan proses yang lama. Tak jarang dalam prosesnya juga memerlukan biaya yang tak sedikit, hingga mencapai hasil desain yang benar-benar memenuhi ekspetasi. Namun kini hal tersebut dapat dikikis dan efisiensi dapat dicapai dengan kehadiran sebuah alat canggih berupa 3D print.
3D print membuat para engineer dan tim Research & Development (R&D) bekerja lebih cepat. Proses validasi desain yang mereka kreasikan dari ide dan penelitiannya menjadi lebih cepat, mudah, dan tentu lebih hemat biaya. Dengan demikian, proses validasi sebuah produk ke pasar dapat lebih cepat.

Kondisi pasar kini semakin ramai dengan permintaan printer yang sangat cocok untuk pembuatan prototipe serta munculnya manufaktur aditif skala industri yang menerapkan manfaat waktu dan biaya yang jauh lebih ringkas. 3D printer skala industri telah diandalkan untuk beragam produksi barang dan komponen, mulai dari perkakas dan suku cadang, pengguna end-user, hanya dengan beberapa hari saja.
Saat penggunaan 3D printer meluas ke lebih banyak penggunaan end–user, pembuatan rapid prototyping terus menjadi cara yang tepat bagi produsen untuk meningkatkan pengembangan produk.
Jadi Apa Itu Rapid Prototyping?
Memasuki dunia yang penuh dengan invoasi, kecepatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sehingga tidak dapat ditawar lagi, bila sebuah industri tidak dapat beradaptasi, besar kemungkinan tidak dapat mengikuti kompetisi pasar.
Prototyping sendiri adalah bagian integral dari desain dan proses rekayasa pada suatu produk. Ini adalah proses berulang untuk sampai terbentuk desain yang optimal, teruji dan utuh.

Seorang engineer akan merancang model dari konsep awal sebuah produk untuk nantinya dapat diuji. Selanjutnya, mereka akan prototipe, melalukan serangkaian pengujian, mengevaluasinya untuk mencatat poin-poin positif yang diperolehnya. Proses tersebut akan berulang hingga sampai pada desain final yang divalidasi untuk memenuhi permintaan pasar.
Jadi pada intinya, rapid prototyping adalah metode pengembangan produk yang memungkinkan pembuatan model atau prototipe secara cepat sebelum produk akhir diproduksi massal. Pembuatan rapid prototyping biasanya bergantung pada teknologi 3D printing untuk membuat prototipe dengan cepat dan tidak ada lagi penggunaan alat atau set cetakan tradisional.
Sumber : https://markforged.com/
Penulis : Tim Evolusi 3D
Penyunting : nus